Sudut

Aku seorang pemuda yang menggemari seni dan olahraga. Dari 2 hal tersebut memiliki kesamaan yaitu seni dan olahraga jalanan seperti grafitti, streetball, freestyle, dan masih banyak lagi.

Kesenian seperti grafitti ataupun olahraga streetball identik dengan ruang lingkup terbuka yang dimana tempat itu sering dilewati atau dilihat orang karena pada dasarnya memiliki ciri khas yaitu untuk entertaiment.

Hobi kami memiliki banyak kesulitan. Mulai dari peralatan seperti cat semprot dan aksesorisnya yang mahal, Sepatu dan bola yang tidak murah, musik pengiring yang membutuhkan pengeras suara yang memiliki kualitas bass yang tidak menggangu pendengeran.

Selain itu, kendala bagi mahasiswa yang masih mengharapkan dapat bersenang-senang tanpa mengeluarkan uang seperserpun tidak luput dari masalah. Jika ingin bermain streetball, kami biasa menumpang ke lapangan komplek sebelah atau kemanapun tempat yang lapangannya bisa digunakan bahkan hingga monas, apartemen kalibata, atau depok sekalipun.

Sering kali kami mengeluh karena hujan membuat lapangan kami basah dan tidak bisa bermain. Tidak jarang kami mengutuk hujan yang tidak salah apa-apa kepada kami hanya karena kami tidak dapat bermain.

Tetapi, itu mungkin hanya sesaat. Jika dilihat dari sudut pandang lain, hujan merupakan rahmat dari tuhan yang maha esa. Tidak mungkin sebuah rahmat membawa keburukan untuk kita, kecuali memang kita yang mengundang malapetaka datang ke rumah. Seperti banjir karena sempitnya jalan dan sampah di jalan, hujan yang merupakan azab untuk kaum nabi nuh, dan lainnya.

Ini bukan masalah tentang apa yang datang, ini hanya tentang bagaimana kita melihat dari sudut mana kita memandangnya. Bahkan nyamuk sekalipun memberi manfaat yaitu terbukanya lapangan kerja untuk masyarakat.

Pengulangan tanpa makna

3 tahun lalu, hampir setiap hari kulewati tempat ini di pagi hari dengan bayang-bayang hukuman apa lagi yang akan kuterima hari ini oleh wakasek sekolah ku yang tanpa pamrih mengumpulkan anak-anak yang terlambat datang untuk menimba ilmu hari ini.

Walau kubenci mengakuinya, buah hasil dari kata-katanya perlahan mengubahku secara perlahan. Memang menyakitkan tetapi kata-kata beliau bagai tamparan yang menyadarkan ku dari mimpi indah yang melarutkanku kedalam kenyamanan yang menghindari tanggung jawabku sebagai siswa dan anak dari orang tua yang mengharapkan suatu masa depan yang cerah bagi diriku sendiri dan orang disekitarku tentunya.

Sering terlambat membuatku sering dicap sebagai pemalas oleh beberapa guruku dulu. Namun, kenapa orang malas sering dimarahi? bukankah dia tidak melakukan apa-apa?

Suara pada dinding jalanan

“Tulisan di bak sampah, suara-suara rakyat”

-Spongebob Squarepants, Episode “Sailor Mouth”

Kurang lebih ucapan seperti itu yang sering terdengar oleh saya setiap menonton episode itu. Saat pertama mendengarnya saya tidak begitu menggubrisnya ketika menontonnya karena saat itu kurang lebih saya masih berusia kurang dari 10 tahun dan belum memahami isi dari apa yang disampaikan oleh sutradara episode tersebut.

Namun, sekarang sudah 2 dekade saya bernafas dan ternyata apa yang dikatakan makhluk laut tersebut.

Memang terkadang jikalau mulut tidak bisa berkata, manusia sering menganggap jika seseorang yang ia tidak berani untuk berbicara kepadanya akan membaca pesannya tersebut.

Namun hal tersebut tidak berlaku untuk tembok kotor depan tempat tinggal saya ini.

Design a site like this with WordPress.com
Get started