Aku seorang pemuda yang menggemari seni dan olahraga. Dari 2 hal tersebut memiliki kesamaan yaitu seni dan olahraga jalanan seperti grafitti, streetball, freestyle, dan masih banyak lagi.
Kesenian seperti grafitti ataupun olahraga streetball identik dengan ruang lingkup terbuka yang dimana tempat itu sering dilewati atau dilihat orang karena pada dasarnya memiliki ciri khas yaitu untuk entertaiment.
Hobi kami memiliki banyak kesulitan. Mulai dari peralatan seperti cat semprot dan aksesorisnya yang mahal, Sepatu dan bola yang tidak murah, musik pengiring yang membutuhkan pengeras suara yang memiliki kualitas bass yang tidak menggangu pendengeran.
Selain itu, kendala bagi mahasiswa yang masih mengharapkan dapat bersenang-senang tanpa mengeluarkan uang seperserpun tidak luput dari masalah. Jika ingin bermain streetball, kami biasa menumpang ke lapangan komplek sebelah atau kemanapun tempat yang lapangannya bisa digunakan bahkan hingga monas, apartemen kalibata, atau depok sekalipun.
Sering kali kami mengeluh karena hujan membuat lapangan kami basah dan tidak bisa bermain. Tidak jarang kami mengutuk hujan yang tidak salah apa-apa kepada kami hanya karena kami tidak dapat bermain.
Tetapi, itu mungkin hanya sesaat. Jika dilihat dari sudut pandang lain, hujan merupakan rahmat dari tuhan yang maha esa. Tidak mungkin sebuah rahmat membawa keburukan untuk kita, kecuali memang kita yang mengundang malapetaka datang ke rumah. Seperti banjir karena sempitnya jalan dan sampah di jalan, hujan yang merupakan azab untuk kaum nabi nuh, dan lainnya.
Ini bukan masalah tentang apa yang datang, ini hanya tentang bagaimana kita melihat dari sudut mana kita memandangnya. Bahkan nyamuk sekalipun memberi manfaat yaitu terbukanya lapangan kerja untuk masyarakat.
